Card image cap

Peran Pahlawan Muslimah Memerdekakan Pendidikan di Indonesia

Sejarah merdekanya masyarakat Indonesia bebas meraih pendidikan memang cukup panjang. Hal itu tak lepas dari perjuangan para pahlawan kita. Seperti Ki Hajar Dewantara, yang dikenal sebagai bapak pendidikan nasional. Juga ada peran pahlawan Muslimah yang berjuang atas hak hak pendidikan perempuan pada masa itu. Dikutip dari Repubika, “Bila dengan sebenarnya hendak memajukan peradaban, maka haruslah kecerdasan pikiran dan kecerdasan budi sama-sama dimajukan.” Itulah kalimat R.A. Kartini dalam bukunya “Habis Gelap Terbitlah Terang”. 


Buku itu adalah kumpulan surat yang ditulis oleh Kartini kepada teman-temannya di luar negeri. Seperti Abendanon, Estelle H. Zeehandelaar, Ovink-Soer, dan lainnya. Kalimat di atas menyiratkan begitu dalam perhatian Kartini tentang Pendidikan. Baik pendidikan kecerdasan berpikir atau berilmu, maupun pendidikan karakter atau kecerdasan budi. Baginya, perempuan dan ibu merupakan orang yang banyak membantu untuk mempertinggi derajat budi manusia. 


Dari perempuan atau ibu itulah manusia mendapatkan pendidikannya yang pertama. Dari ibu mereka kemudian belajar merasa, berpikir, dan berkata. Pendidikan pertama itulah, kata Kartini, sangat berpengaruh bagi kehidupan seseorang. Emansipasi wanita yang disuarakan Kartini bermula dari kondisi perempuan Indonesia saat itu yang nyaris seperti tak punya hak untuk belajar. Dari hal itu, tergambar betapa dalam kepedulian Kartini terhadap pendidikan. Sebagai perempuan yang berasal dari kalangan kaum ningrat, Kartini bersyukur bisa memperoleh pendidikan sehingga ia bisa menjalin korespondensi dengan sahabat-sahabat Belanda-nya. Meski tubuhnya berada di dalam tembok keputren, tetapi Juni 2021 21 muslimah jiwanya melanglang buana. 


Karena pendidikan yang diperolehnya menjadikan ia mampu berkelana dalam perjalanan pemikiran yang tanpa batas. Menuangkan ide-ide, keinginan untuk memperjuangkan hak perempuan agar memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan seperti kaum pria. Berpikir kritis, sekaligus upaya mencari solusi atas semua kegelisahan jiwanya, adalah gambaran umum yang terungkap dalam surat-surat Kartini. Surat-surat yang ditujukan kepada dua sahabatnya, Stella Zeehandelaar dan Nyonya Abendanon. Namun betapa sayangnya, kata Kartini, bila membaca Alquran sebagai kitab suci yang sedemikian indahnya justru tidak dipahami isinya sama sekali oleh orang-orang yang beriman. 


Padahal, mereka khususnya orang Jawa yang Muslim sangat ingin mengerti kandungan kitabullah itu sebagai penuntun kehidupan. Bagaimana mungkin beramal tanpa ilmu? Tergugahlah hati KH. Saleh Darat, guru mengaji Kartini. Begitu kembali ke rumahnya, sang kiai kemudian berupaya menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa aksara Pegon.Dari kerja kerasnya itu, lahirlah kitab tafsir al-Qur’an Faidhur Rahman. Pada sampul buku ini, dia menggunakan nama Abu Ibrahim untuk mengenang anaknya (Ibrahim) yang telah wafat. Kitab tersebut merupakan teks terjemahan pertama Al Quran dalam bahasa Jawa. Isinya meliputi surah al-Fatihah hingga surah Ibrahim. 


Penulisnya lebih dahulu wafat sebelum dapat menuntaskan kitab ini hingga membahas seluruh 30 juz Alquran. Sejak membaca karya KH. Saleh Darat tersebut, pandangan Kartini mulai islami. Dalam arti, dia mulai meninggalkan kecenderungan liberal, yang tidak lain arahan para mentornya dari Belanda. Ucapannya yang terkenal, “Dari gelap terbitlah terang”, merupakan pemahaman Kartini akan ayat ke-257 Surah al-Baqarah, yang artinya “Orang-orang beriman dibimbing Allah dari kegelapan menuju cahaya.” Kartini sangat tersentuh akan kalimat dari firman Allah itu. Kita tahu, sebenarnya Kartini tak sendiri dalam hal memperjuangkan pendidikan pribumi. Kita mengenal Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, dan banyak lagi pendekar wanita di masa lalu yang peduli terhadap pendidikan, khususnya untuk kaum wanita. Mereka sudah berpikir maju, jauh melampaui cara berpikir perempuan pada zamannya. Mereka berjuang melawan tradisi yang sudah mengakar. 


Menentang apa yang dianggap tabu, tentang hak wanita untuk pintar menulis, membaca dan berketerampilan lainnya, yang bukan hanya berkutat antara dapur, sumur, dan kasur. Bukan untuk dirinya sendiri saja, tetapi untuk seluruh kaum perempuan, saat itu hingga sekarang. Kini, apa yang mereka perjuangkan sudah dinikmati oleh kaum wanita. Perempuan Indonesia bebas bersekolah ke mana saja mereka suka. Sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Bebas berkarya, menyuarakan pendapat, memiliki pekerjaan dan karir seperti halnya pria. Namun harus diingat, hak memperoleh pendidikan sama dengan pria bukanlah berarti mengingkari kodrat sebagai seorang wanita. Bukan untuk menggantikan pria, tetapi wanita dan pria adalah setara tetapi untuk saling melengkapi bukan berkompetisi.

Sebarkan Kebaikan Anda

logo
Graha Yatim Mandiri
Jalan Raya Jambangan No.135-137 Surabaya
08113701100
infak@yatimmandiri.org

Temukan Kami Di