Card image cap

Menerapkan Qana’ah Masa Kini

Doa ini sangat indah sekali, sampai Rasulullah bertutur, urusan duniamu dan akhiratmu”. “Kesemua ini menggabungkan Doanya, “Allahummaghfirli warhamni wa’afini warzuqni”, Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, rahmatilah diriku, berilah keselamatan kepadaku dan berilah rezeki kepadaku. (HR. Muslim). Akhir pinta doa ini, meminta sebuah kebaikan yang bernama rezeki. Iya, rezeki itu baik, anugerah dari Allah, dan kenikmatan yang disukai tiap diri. 

Namun, menariknya mereka yang mendapat rezeki belum tentu bisa beruntung dengan mampu menikmati rezeki itu. Mengapa? Karena urusan rezeki bukan hanya ternilai dengan logika; banyak sedikit nominal yang diterima, ataupun besar kecil harta yang dimiliki. Tapi, rezeki juga harus dinilai dengan hati. dan instrumennya bernama qana’ah. Tiada lain agar orang yang mendapat rezeki kan beruntung karenanya, dan mampu menikmatinya.

Sebagaimana rumus sabda Mulia, “Qad aflaha; Sungguh ia telah beruntung”, siapa mereka?. “wa ruqiqa kafaafan wa qanna’ahullahu bima aataahu; memperoleh kecukupan rezeki dan dianugerahi sifat qana’ah atas segala pemberian Allah”. (HR. Tirmidzi). Jadi, amalan hati yang bernama qana’ah ini menjadi faktor penting untuk mampu menikmati karunia Allah, dimana efeknya kehidupan, kan terasakan nyaman, tenang, dan membahagia. Ujar Ibnu Abbas menafsirkan QS. an-Nahl: 97, “..Maka, sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”, “Ayat ini menunjukkan keutamaan sifat qana’ah”. 

Lalu, pertanyaanya, bagaimana teknis aktualisasi sifat qana’ah ini. Diantara yang bisa kita lakukan memunculkan sifat qana’ah adalah. Pertama, perkuat keimanan kita, dengan cara perbanyak ketaatan kepada Allah. “Iman itu bertambah dan berkurang”, Sabda Rasulullah. “Yazid bit tha’ah; bertambahnya dengan ketaatan kita”. Karena dengan taat kita semakin dekat dengan Allah. Analoginya, seorang sahabat yang sudah saling mengenal dan dekat, ketika di antara mereka saling memberikan sesuatu, maka sebagai orang yang dekat, pasti kita menerima dengan senang hati, apa pun pemberian dia. 

Kedua, perbanyak lapis-lapis wawasan dan keilmuan, khususnya terkait dengan takdir, makna Asmaul Husna Allah, pembahasan rezeki, nilai kesabaran dan syukur, pun juga makna tawakal. Mengapa? Karena qana’ah itu mudah hilang, saat halhal diatas tidak mampu dimaknai. Semisal, seseorang berkata, “Enak sekali dia, nambah terus rezekinya, aku? Gak nambah-nambah”. 

Komentar diatas karena belum memahami akan makna dari takdir, komposisi rezeki Allah, pun juga sifat Allah di Asmaul Husna, misal di sifat Allah Maha Adil. Jadi, adil itu bukan membagi sama rata, tapi adil adalah membagi sesuai dengan porsi kebutuhan. Ketiga, melihat dengan sudut pandang Allah. Caranya. Pertama, saat menilai sesuatu kembalikan kepada definisi Allah. Semisal rezeki. 

Ternyata rezeki itu tidak hanya kenikmatan yang harus “dieksploitasi” dalam kehidupan, tetapi rezeki itu kenikmatan yang perlu “jawaban”. Karena rezeki itu statusnya tidak hanya anugerah, tapi juga ujian. “bal hiya fitnah; sebenarnya itu adalah ujian” (QS. az-Zumar: 49). Maka, namanya ujian, kita harus siap memberikan jawabannya. Kedua, Melihat hikmah kebaikan dari apa yang dialami dan dirasakan. Dengan cara gunakan kacamata kebenaran dan kebaikan. “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak” (QS. al-Baqarah: 269). Selamat menikmati sajian qana’ah, bitaufiqillah.

Oleh: Ust. Heru Kusumahadi, Lc. M.Pd.I

Sebarkan Kebaikan Anda

logo
Graha Yatim Mandiri
Jalan Raya Jambangan No.135-137 Surabaya
08113701100
infak@yatimmandiri.org

Temukan Kami Di